(DOC: google)

Calo Jual Darah Per Kantong Rp 800.000

Admin | 2 March 2016 | 15:33 WIB
(DOC: google)
(DOC: google)

Harga satu sampul darah 200 cc dihargai Rp.650.000 sampai Rp. 800.000, ini untuk golongan darah yang mudah ditemukan, seperti golongan darah O dan A. Sebab, jenis golongan darah ini dinilai lebih banyak dan mudah didapat. Sebaliknya, golongan darah B dan AB dinilai lebih sulit.

TABLOIDIMAJI.COM, MEDAN – Darah yang terdapat di dalam tubuh manusia bisa dijadikan sebagai barang untuk diperjualbelikan. Apalagi mengingat kebutuhan darah di Indonesia itu tinggi banget. Dari mulai penggunaannya untuk menolong persalinan, mengobati penyakit, dan juga penanganan ketika terjadi suatu kecelakaan yang mengakibatkan korban kehilangan banyak darah. Sementara itu, untuk mendapatkan transfusi darah, terkadang pasien harus merogoh kantungnya dalam-dalam. Terutama dalam kondisi mendesak, ketika apsien atau anggota keluarga yang membutuhkan darah, ada oknum yang memanfaatkan dengan cara menjual darah. Per kantong darah bisa dibanderol hingga Rp 800.000.

Penelusuran IMAJI, aksi calo darah dilakukan secara sembunyi-sembunyi di salah satu rumah sakit swasta yang terdapat di Kota Medan. Calo  darah ini kerap berkumpul di lobi rumah sakit dan menunggu pihak yang membutuhkan untuk membeli darah yang mereka jual atau darah hasil donor mereka sendiri. Modus operasinya, mereka selalu bertanya kepada tiap keluarga/kerabat pasien yang memerlukan darah lalu membantu keluarga pasien dan menawarkan diri sebagai pendonor. Namun, tawaran itu tidak gratis. Penerima harus merogoh kocek lebih dari harga darah resmi yang sesuai dengan Biaya Pengganti Pengolahan Darah (BPPD) di PMI.

Kebutuhan darah bagi manusia sangat urgent. Apalagi pada kasus kecelakaan, usai melahirkan, atau demam berdarah. Daripada mempertaruhkan nyawa, berapa pun harga per kantong darah yang ada tentu akan dibeli. Tak pernah ada yang menawar harga.  Harga satu ampul darah 200 cc dihargai Rp.650.000 sampai Rp. 800.000, ini untuk golongan darah yang mudah ditemukan, seperti golongan darah O dan A. Sebab, jenis golongan darah ini dinilai lebih banyak dan mudah didapat. Sebaliknya, golongan darah B dan AB dinilai lebih sulit.

Rina, satu dari sekian banyak korban calo darah, menceritakan pernah membeli darah dari para calo. Hal itu, kata rina, diakibatkan darah yang dibutuhkan telah habis di PMI Kota Medan. Akhirnya, Rina lebih memilih menerima darah dari calo penjual darah seharga Rp 800.000 per kantong.”Waktu mau beli ke petugas katanya tidak ada, tapi nggak berapa lama ada yang menawarkan ke saya walaupun mahal. Ya, namanya butuh, mau nggak mau saya ambil saja,” kata Rina

Seorang oknum calo penjual darah adalah Firman (nama samaran) mengatakan bahwa pasien yang membutuhkan darah secara mendadak yang ditanganinya, didominasi oleh korban kecelakaan dan cuci darah. Kelaurga atau kerabat menuturkan sering kehabisan stok atau tidak sempat untuk membeli ke PMI. Permasalahan ini menjadi celah bisnis bagi Firman . “Tolong jangan dikasi tau nama asli ku ya. Jadi gini, kalau tentang calo jual darah ini bisa terbilang menguntungkan. Kan banyak pasien yang tiba-tiba kecelakaan, cuci darah. Saat mereka butuh, sering nggak sempat beli ke PMI. Nah, disitulah calo donor darah itu dibutuhkan,”ujarnya.

Firman menyebutkan  dirinya telah bekerja sama dengan salah satu pekerja di rumah sakit yang bertugas untuk mendonorkan darah agar pekerjaan yang dilakukannya berjalan dengan mulus.”Supaya nggak ketauan, saya kerja sama dengan salah satu pekerja yang biasa tugas donorkan darah orang,”katanya. Bahkan, ada calo yang sengaja menjual darah dari pendonor yang menjual darahnya atau membeli dari petugas rumah sakit. Mereka tidak segan-segan ke luar masuk ruangan rumah sakit untuk mengambil pesanan pasien yang membutuhkan darah setelah bertransaksi di sekitar lokasi.

Ironisnya, petugas rumah sakit seolah tak berkutik terhadap ulah para calo tersebut. “Kalau mau lancar pekerjaan kayak gini, ya salam (memberikan duit) kan juga lah pekerjanya yang tugas donorkan darah, supaya aman” kata Firman. Ia menuturkan, sebagai penjual darah, ia tidak sendiri. “Saya nggak sendiri disini, ada banyak, tentunya dari masing-masing golongan darah, ya harus ada,”kata Firman.

Tak jarang Firman juga memilih mendonorkan darahnya sendiri sebulan sekali. Firman mengaku hal itu dilakukan lantaran lebih menguntungkan. Apalagi, konsumennya tidak tahu darah itu berasal dari mana atau memenuhi standar atau tidak. “Kadang sebulan sekali, kadang dua bulan. Asal ada orang yang sangat butuh saya langsung jual darah saya sendiri,” katanya.

Ketika ditanya mengenai kesehatannya, Firman mengatakan agar staminanya tidak terkuras karena mendonorkan darah tidak sesuai waktu yang dianjurkan, ia mengaku cukup meminum susu cair kaleng. “Cukup dua botol susu kaleng setelah donor darah, sudah normal lagi tenaga saya,” Firman menambahkan. (crew)