(DOC: GOOGLE)

Suami Kontrak Dapat Biaya Rp 15 Juta Per Bulan

Admin | 26 March 2016 | 15:05 WIB
(DOC: GOOGLE)
(DOC: GOOGLE)

Bukan hanya di Puncak, di kawasan Bukit Lawang, Langkat,  fenomena pasangan yang melakukan kawin kontrak bisa Anda temui.  Pelaku kawin kontrak ini mengakui uang dan seks menjadi pendorong mereka untuk melakukannya. Sesuai sebutannya, dalam jangka waktu tertentu, umumnya satu tahun, si pelaku yang bersedia menerima kawin kontrak, akan menerima sejumlah bayaran, rata-rata minimal Rp 10 juta per enam bulan.

TABLOIDIMAJI.COM, MEDAN – Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai sumai istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Lalu bagaimana dengan kawin kontrak? Kawin kontrak bukanlah fenomena baru di Indonesia.

Di kawasan Puncak, Bogor, Anda secara mudah bisa menemukan para pasangan yang terang-terangan menyebutkan status kawin kontraknya. Biasanya mereka menikah dengan pasangan yang berbeda kewarganegaraan  ataupun beda agama. Bermacam alasan yang membuat orang mau melakukan kawin kontrak, dan biasanya berkaitan dengan imbalan materi yang ditawarkan begitu menggiurkan. Bahkan tak jarang kawin kontrak menjadi sebuah “mata pencaharian” oleh si pelaku kawin kontrak. Sehabis tenggat kontrak, mereka bisa menyambung dengan pasangan pertama atau pasangan baru.

Bukan hanya di Puncak, di kawasan Bukit Lawang, Langkat,  fenomena pasangan yang melakukan kawin kontrak bisa Anda temui.  Pelaku kawin kontrak ini mengakui uang dan seks menjadi pendorong mereka untuk melakukannya. Sesuai sebutannya, dalam jangka waktu tertentu, umumnya satu tahun, si pelaku yang bersedia menerima kawin kontrak, akan menerima sejumlah bayaran, rata-rata minimal Rp 10 juta per enam bulan.  Ditambah lagi beberapa mahar yang harus dibayarkan pihak yang satu kepada yang lain. Biaya hidup seperti makan, tempat tinggal, dan kebutuhan lain-lainnya akan dipenuhi sampai deadline yang sudah disepakati.

Penelusuran IMAJI, mayoritas pelaku kawin kontrak adalah turis laki-laki dari negara Eropa, sedangkan pihak perempuannya berasal dari pelosok-pelosok desa di kawasan Langkat. Para perempuan ini pada umumnya mencari pasangan laki-lakinya sendiri. Perempuan  yang telah siap untuk kawin kontrak umumnya dari keluarga yang tingkat ekonomi rendah. Dengan iming-iming imbalan materi mulai dari Rp. 80.000.000 – Rp 200.000.000 per tahun yang ditawarkan sang pendatang, mereka menyetujuinya. Orangtuanya pun rela melepas anak perempuannya,  untuk kawin dalam jangka waktu antara lima bulan hingga dua tahun saja. Atau biasanya selama para turis itu berlibur di Indonesia pada musim liburan, yaitu bulan Mei dan Juni.

Walau mayoritas perempuan, ada juga laki-laki warga setempat yang menerima tawaran kawin kontrak dari perempuan luar negeri. Seperti Iwan (bukan nama sebenarnya), yang bercerita kepada IMAJI bahwa ia awalnya bekerja sebagai guide di sebuah lokasi wisata. Akad nikah yang dilakukan Iwan dan calon istrinya saat itu hanya  berdasarkan selembar kertas dan sebuah pena.  Kontrak  berakhir jika si istri pulang ke negara asal karena visa dan izin tinggal di Indonesia sudah habis. Proses kawin kontrak itu hanya sekadar menuliskan poin-poin perjanjian dan hak-hak yang akan didapati oleh si calon suami, Iwan.

Iwan mengakui melakukan kawin kontrak karena mendapatkan iming-iming harta dari sang istri. Istri Iwan seorang  warga negara asing (WNA) asal Perancis yang awalnya datang ke Indonesia dan berlibur ke tempat Iwan bekerja menjadi guide. Karena tertarik ingin membuka usaha di lokasi tersebut, WNA tersebut menawarkan proses kawin kontrak kepada Iwan. Tujuannya agar proses urus jual beli tanah menjadi lancar, sebab sang istri ingin membangun vila.

“Awalnya dulu, dia datang ke sini hanya untuk berlibur. Tapi ternyata dia tertarik untuk membuka usaha di sini, bangun villa. Karena saya yang kebetulan saat itu menjadi guide-nya, akhirnya dia menawarkan saya ngajak kawin kontrak,” ujar Iwan, Sabtu (19/3/2016). Menurut Iwan, tawaran dan perjanjian yang diberikan menarik. Ia pun mengiyakan tawaran tersebut. “Hanya modal kertas putih dan pulpen, saya dan dia menulis perjanjian yang isinya saya sebagai WNI dan warga di sini bertanggung jawab mengurus pembelian lahan dan pembangunan vila di lokasi ini sampsi selesai. Apabila sudah selesai, saya akan mengelola vila ini dan hasilnya akan dibagi 50:50. Istri saya datang ke Indonesia tiap bulan 6 dan 12, jadi saat bulan tersebutlah saya memberikan hasil yang di dapat dari vila ini sebesar  50%,” Iwan menjelaskan.

Pria bertubuh kekar dan badannya yamg dipenuhi tato ini menyebutkan mendapat penghasilan sekitar Rp 10 juta hingga Rp 15 juta  perbulan dari operasional vila yang dikelolanya. Nilai itu setelah porsi 50% dibagi untuk istrinya. “Dia lihat karena saya warga asli di sini dan tahu tentang berapa yng dibutuhkan untuk membangun villa dan mengelolanya,saya mengiyakan tawaran tersebut. Saya juga dipercaya untuk mengelola vila ini setelah selesai dibangun,” ucapnya.

Meski ada poin-poin perjanjian antara ia dan istrinya dalam menjalankan kawin kontrak, Iwan mengatakan mereka saling percaya. Menurutnya pembagian antara hak dan kewajiban yang sudah disepakati, sama-sama menguntungkan kedua pihak. Sang istri yakin bahwa Iwan tidak akan menjual tanah dan vila tersebut. Terbukti, di dalam perjanjian bahwa kontraknya selama dua tahun, kini telah memasuki tahun ke-empat. “Namanya juga kawin kontrak, ada masa berlakunya. Dulu saya dan istri saya hanya sampai dua tahun saja menjalani masa kawin kontrak. Tapi sampai sekarang, memasuki tahun ke empat, istri saya masih percaya dengan saya. Ia ingin saya tetap menjadi pengelola vila ini, “ ujarnya. (crewImaji)